News

*Sampah Plastik Yang Semakin Pelik di TPS Melati, Bonang. Kelapa Dua*

Sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik dan ditempatkan ditempat yang tidak tepat pastinya akan menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan. Bukan cuma daratan, tapi juga lautan. Tak sedikit hewan-hewan laut, sungai, mati lantaran tak sengaja memakan plastik-plastik yang mereka kira makanan.

Soal pengelolaan limbah sampah, Indonesia bisa dikatakan salah satu yang terburuk di dunia. Ini terungkap dari hasil studi Jambeck tahun 2015 yang dimuat pada laman Our World in Data.

Sebanyak lebih dari tiga juta ton sampah plastik Indonesia masuk ke lautan tiap tahunnya. Bahkan, dari sumber tersebut, Indonesia dicap sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Tentu ini bukanlah hal yang patut dibanggakan, bukan?

Seperti yang terpantau pada Tempat Pembuangan Sampah/TPS Melati, Bonang, Kelapa Dua. Kabupaten Tangerang. dimana menumpuknya sampah plastik.dari berbagai corak ragam membuat area ini menjadi bak lautan sampah dari berbagai ragam serta aroma bau tak sedap yang dihembuskan angin untuk dihirup bagi lingkungan sekitar.

Hal ini dirasakan sejak bulan Januari 2024 yang terpantau sampah kian lama kian menumpuk, dan tak terarah batas pengangkutan sampah, dimana terkadang dalam seminggu hanya 3 (tiga) kali saja armada yang datang ke lokasi TPS Tersebut.

” Itupun armada bila datang ke TPS, dari luar sudah membawa sampah didalamnya, sehingga hanya sedikit sekali sampah disini yang terangkat, bagaimana bisa sampai pinishing sampah disini,” ucap Wahyu, kepada awak media. Selasa 21 Mei 2024.

Ditambahkan, bahwa dulu pernah dijanjikan oleh pihak DLHK akan dibantu pengangkutan sampahnya 25 kali dalam sebulan, agar sampah bisa dapat terakomodasi dan tuntas, tetapi kenyataan hanya hisapan jempol belaka.

” Kewajiban kontribusi sampah sudah kami lakukan setiap bulannya kepada pihak pengawas, agar bisa terakomodasi sampah disini, tetapi hingga kini armada yang datang selalu tidak maksimal, karena selalu membawa sampah dari luar,” ungkapnya.

Harapan pak Wahyu, kedepan agar sampah di TPS nya bisa di maksimalkan penganggkutanya, karena bila saat di musim penghujan tiba, maka aroma tak sedap itu akan menyebar kearea lingkungan setempat, maka untuk menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya segelintir orang saja, perlu ada upaya kolaboratif untuk mengatasi permasalahan sampah, baik oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat.

Pengamat Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang. Ir. Andreas. Menjelaskan untuk memantik kepedulian masyarakat, beberapa produsen kini gencar memerangi penggunaan kemasan plastik. Salah satunya, yang dilakukan Perusahaan Unilever.

Dikatakan, Usaha tersebut pun sepertinya memang tidak main-main. Pasalnya, untuk hulu sendiri saja, ada tiga kerangka kerja yang diterapkan, yakni Less Plastics (mengurangi plastik), Better Plastic (plastik yang lebih baik), dan No Plastics (tanpa plastik). Dari sekian banyak produk Unilever, Rinso menjadi salah satu yang menerapkan ketiga konsep tersebut.

Nurleny Manullang/Harun al-Rasyid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button