Opinion

Mengapresiasi Gerak Cepat Aparat Keamanan Kejar KST Papua Penembak Pos Maybrat

Oleh : Aprilia Nova Salabay )*

Aparat keamanan langsung bergerak cepat untuk melakukan pengejaran kepada Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua para pelaku penembak Pos Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Kabupaten Maybrat. Gerak cepat yang dilakukan oleh aparat keamanan tersebut tentunya patut untuk diapresiasi dengan sangat tinggi, pasalnya sangat optimal untuk mewujudkan situasi yang kondusif serta terciptanya keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat (kamtibmas).

Pihak TNI dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) terus melakukan pengejaran kepada para pelaku penembakan dua prajurit TNI di Boshua Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Beberapa cara yang dilakukan dalam melakukan pengejaran tersebut adalah dengan menyisir rute pelarian dari gerombolan separatis itu.

Terkait upaya tindak tegas tersebut, Komando Tugas Gabungan (Kogasgab) Papua Barat terus melakukan pengejaran dan juga penyisiran di sejumlah rute pelolosan yang biasanya digunakan oleh KST di sekitaran wilayah Distrik Aifat Utara dan Aifat Selatan yang menjadi pergerakan dari gerombolan teroris di Bumi Cenderawasih tersebut.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Nugraha Gumilar mengaku bahwa peristiwa yang terjadi belakangan merupakan sebuah hal yang memang sangat disayangkan terjadi, terlebih hal itu bertepatan pada perayaan Hari Raya Natal umat Nasrani sehingga jelas sekali mencederai bagaimana khidmatnya pelaksanaan peribadatan Natal.

Diketahui bahwa kedua korban berasal dari Yonif 133 / Yudha Sakti saat mereka melaksanakan tugas pengamanan perbatasan di Boshua Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat pada hari Senin tanggal 25 Desember 2023 lalu. Penembakan diduga kuat dilakukan oleh KST Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB) wilayah Sorong Raya yang memang selama ini kerap kali terus menebarkan teror ke tengah masyarakat di wilayah itu.

Salah satu dari korban meninggal dari insiden penembakan yang dilakukan oleh gerombolan separatis tersebut yakni Kopral Dua (Kopda) Hendrianto, telah diterbangkan dengan menggunakan Pesawat Lion Air dari Sorong menuju ke Padang, kemudian diantarkan ke rumah duka di Desa Koto Dian, Kecamatan Hamparan Rawang, Kabupaten Kerinci, Jambi.

Sedangkan korban lain, atas nama Franky Gulo saat ini harus dirawat di Rumah Sakit (RS) Scholoo Keyen Teminanuan, Kabupaten Sorong Selatan. Kemudian kondisi terkini dari Prajurit Kepala (Praka) tersebut terus mengalami pembaikan setelah dirinya melalui operasi pengangkatan proyektil di bagian perutnya.

Pihak TNI juga masih terus mendalami insiden penyerangan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) atau Kelompok Separatis dan Teroris (KST) terhadap prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 133 / Yudha Sakti dari Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Pos Bousha.

Brigjen TNI Nugraha Gumilar menjelaskan bahwa perkiraan serangan dilakukan oleh KST Papua secara tiba-tiba ke arah Pos Bousha dari ketinggian dengan jarak sekitar 100 meter pada pukul 14:00 Waktu Indonesia bagian Timur (WIT).

Sebelumnya, diketahui bahwa Kepala Penerangan Komando Daerah Militer (Kapen Kodam) XVII / Kasuari Kolonel (Inf) Syawaluddin Abuhasan mengatakan bahwa penembakan terjadi pada Senin pukul 14:00 WIT. Sebanyak sepuluh kali tembakan dilakukan dari arah depan Pos Satgas Pamtas.

Di sisi lain, Panglima Kodam XVIII / Kasuari Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Ilyas Alamsyah Harahap mengaku bahwa pihaknya sedang terus menyusun dan merombak pos penjagaan untuk melakukan pengejaran kepada para pelaku penembakan.

Berkat bagaimana langkah dan gerak cepat yang dilakukan oleh aparat keamanan jajaran pasukan gabungan, kini kondisi di Kabupaten Maybrat sendiri pasca insiden penembakan tersebut sudah kembali dalam kondisi yang kondusif.

Menurut Pangdam sendiri, bahwa terdapat sejumlah pos pengamanan yang dinilai kurang efektif. Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya juga telah melakukan relokasi sehingga mampu semakin meminimalisasi adanya kemungkinan potensi atau ancaman terhadap para prajurit yang sedang bertugas.

Baginya, dengan cara tersebut dinilai akan lebih relevan jika dibandingkan dengan menambahkan jumlah personel TNI untuk menempatkan pada pos pengamanan yang tersebar di beberapa kampung Maybrat. Dengan adanya relokasi pos, maka diharapkan pengamanan akan menjadi jauh lebih kuat.

Pada kesempatan yang berbeda, Aliansi Mahasiswa Milenial Indonesia (AMMI) mendukung penuh bagaimana upaya dari aparat keamanan untuk menindak dengan sangat tegas Kelompok Separatis dan Teroris (KST) di Papua.

Ketua Umum (Ketum) AMMI, Nurkhasanah mengungkapkan bahwa memang tindakan tegas yang dilakukan oleh aparat keamanan itu merupakan hal yang sangat penting dan bahkan ditunggu oleh segenap masyarakat orang asli Papua (OAP). Pasalnya memang gerombolan teroris itu kerap kali melancarkan berbagai serangan kepada warga sipil yang tidak bersalah.

Apresiasi sangat tinggi patut diberikan kepada upaya tindakan tegas dan terukur dari aparat keamanan personel gabungan, dengan langkah gerak cepat mereka untuk melakukan pengejaran kepada KST Papua yang menjadi pelaku penembakan Pos TNI di Kabupaten Maybrat.

)* Mahasiswa Papua Tinggal di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button